Kementerian Keuangan (Kemkeu) tengah lakukan kajian pengenaan pajak untuk transaksi perdagangan dengan on-line atau e-commerce. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan, transaksi perdagangan dengan digital sendiri sesungguhnya dapat lebih gampang terdeteksi dibanding transaksi dengan konvensional.

Akan tetapi, permasalahannya sekarang ini ada pada transaksi digital yang dikerjakan antar negara. “Pemiliknya dimana, jualnya dimana, pajaknya bagaimana? Sisi penerimaan ini juga akan jadi sisi yang dinamis, ” tutur Sri Mulyani di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (21/8).

Pajak E-Commerce Akan Terjadi Jika E-Commerce Gandeng Negara Lain

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menyebutkan, untuk memajaki e-commerce dengan adil, Indonesia butuh belajar dari negara beda. Satu diantara langkah yang efisien menurut dia dikerjakan di Uni Eropa, yakni mengaplikasikan origin principle untuk PPN.

Pasalnya, dengan terdapatnya transaksi e-commerce, barang tak akan senantiasa berwujud fisik hingga kategorinya terdiri jadi tangible serta intangible, Umpamanya buku fisik serta ebook. Walau sekian, prinsipnya keduanya dikenai pajak, dlm hal semacam ini PPN atas penjualan barang, serta PPh bila ada pendapatan serta subyeknya terkaver Undang-Undang (UU) Indonesia.

“Dipungut di negara yang jual, lantas berbagi dengan negara maksud. Disini tunjukkan, memajaki e-commerce mesti bekerja bersama, regionalisme jadi perlu. Ada paradoks ” coopetition “. Tetaplah bersaing supaya tidak ketinggal, tapi mesti bekerja bersama supaya memperoleh hasil maksimal, ” tuturnya

Menurut Yustinus, apabila pemerintah menginginkan ada level of playing field pada jenis usaha konvensional serta e-commerce yang dilengkapi denga cek resi, jadi mesti ada bebrapa bagian yang pasti menuju kesana. Janganlah lalu ada yg tidak dapat dikenai pajak karna juga akan menyebabkan ketidakadilan.

“Tapi mesti dibedakan pada kebijakan serta administrasinya. Yang pertama masalah keadilan memajaki, yang ke-2 langkah memajaki yang efisien, ” katanya. Dengan hal tersebut, menurut Yustinus, yang perlu untuk dikerjakan pemerintah yaitu dorong semuanya aktor tercatat.

Staf Pakar Menteri Keuangan bagian Kepatuhan Pajak Suryo Utomo menyebutkan, sekarang ini hal itu masih tetap dikerjakan pengkajian dengan mendalam berkaitan jenis serta langkah transaksi seperti apa yang juga akan dipakai pajak.

Ditjen Pajak sendiri sudah mengerti ada alur pergeseran transaksi orang-orang dari konvensional ke on-line. ” Mudah-mudahan tidaklah terlalu lama kami dapat mendeskripsikan jenis transaksi serta bagaimana memajaki, ” kata dia.

Selain itu juga Tidak cuma mengumbar potongan harga besar-besaran, JD. ID juga buka kesempatan untuk beberapa pegiat ‘DIY- Do It Yourself’, terutama di bagian perakitan furniture rumah tangga serta piranti pendukungnya.

Langkah ini dikerjakan e-Commerce itu dengan menggandeng Funika serta Bosch untuk wujudkan jalan keluar kreatif untuk golongan urban, sekalian jadikan JD. ID jadi tujuan baru untuk beberapa pegiat DIY di Indonesia.

“Sebagai perusahaan e-Commerce, kami dituntut untuk lebih pro aktif serta kreatif lihat kesempatan yang lebih dari sebatas penawaran potongan harga, karna tiap-tiap pemain mungkin tawarkan hal yang sama, ” tutur Teddy Arifianto, Head of Corporate Communications & Public Affairs JD. ID lewat info tertulis, Jumat (17/2/2017) di Jakarta.

Dengan Funika serta Bosch, Lanjut Teddy, JD. ID mempunyai misi serta maksud sama untuk memberi lebih dari sebatas product berguna, tetapi juga jalan keluar pas manfaat untuk golongan urban dengan mengakomodir trend pola hidup yang praktis serta fungsional.

Jadi info, Funika serta Bosch masuk di JD. ID dalam kelompok keperluan rumah tangga sebagai top 5 kelompok terpopuler serta pilihan pelanggan selama 2016.

“Kedua merk itu sudah mempunyai cerita serta rekam jejak yang baik di mata beberapa pelanggan serta konsumennya, serta saat ini ada di JD. ID. Kami memiliki komitmen mendatangkan bermacam jalan keluar kreatif yang dilandasi semangat DIY, ” kata Ramadhan Niendraputra, Merchandising Head dari Household Category di JD. ID.

Ramadhan menyatakan, ini jadi argumen JD. ID untuk selalu bekerjasama dengan Bosch, Funika, serta merk top yang lain untuk turut sharing serta menyukseskan trend DIY yang selalu berkembang serta berikan jalan keluar bernilai untuk kehidupan keseharian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *