Kitab di Masjid Palu Sulawesi Tengah

Kitab di Masjid Palu Sulawesi Tengah

Kitab di Masjid Palu Sulawesi Tengah

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, rela artinya bersedia dengan ikhlas hati, izin (persetujuan), perkenan, dapat diterima dengan senang hati, dan tidak mengharap imbalan, dengan kehendak atau kemauan sendiri. Sedangkan konsekuensi artinya akibat (dari suatu perbuatan, pendirian, dan sebagainya), ada sebuah Kontraktor Kubah Masjid dan persesuaian dengan yang dahulu. Cakupan kaidah Dalam tataran prektis, kajian kaidah ini dapat secara luas di terapkan dalam berbagai permasalah, diantaranya dapat kita lihat seperti.

Seorang calon suami yang rela akan ‘ayb yang diderita oleh calon istri, menurut satu pendapat (qawl shahih), tidak dibenarkan menceraikan istrinya, walaupun dikemudian hari ‘ayb yang dideritanya semakin parah. Sebab, apa yang menimpa istrinya sudah diterima dengan lapang dada sejak semula. Dan berlaku sebaliknya, dengan catatan ‘ayb sudah direlakan saat pertama kali mereka mengikat tali pernikahan. Suatu hal yang di alami seorang gadis bernama farida, kiranya bisa dijadikan contoh ringan. Suatu hari ada di dalam Kontraktor Kubah Masjid, gadis ini meminjam sepeda untuk dipakai jalan-jalan. Ketika sedang asyik berkendara, tiba-tiba ban sepeda itu bocor. Dalam kasus ini, farida tidak wajib bertanggungjawab atas kerusakan ban selama pemakaian sepeda itu dilakukan secara wajar (tidak ceroboh dan diluar batas) dan sesuai dengan ketentuan izin pemilik.

Sebab, pemilik sepeda ketika memberi izin (rela) sepdanya dipakai, berarti ia juga rela sepeda itu digunakan sesuai batas kewajaran. Artinya, pernyataan “boleh dipinjam” sama saja dengan ungkapan rela pada dampak yang akan ditimbulkan. Oleh sebab itu, pemilik sepeda tidak dapat memaksa peminjam untuk menggantinya. Ketika semuanya berubah tetap berdiri Kontraktor Kubah Masjid Lain halnya bila dalam pemakaian tersebut terdapat unsure kecerobohan, seperti satu sepeda dinaiki tiga orang. Padahal daya muat sepeda dimaksut hanya untuk satu atau dua orang saja. Dalam hal ini, segala kerusakan yang diakibatkan pemakaian tersebut menjadi tanggungjawab pemaiakanya. Sebab, pada dasarnya, ketika pemilik sepeda memberikan izin, maka izin itu berlaku untuk pemakaian yang wajar. Dengan demikian, kerusakan dalam kasus di atas adalah akibat dari pemakaian yang tidak wajar sehingga harus ditanggung pihak pemakai. Diantara larangan yang harus dihindari ketika melakukan ihram; haji maupun umrah, adalah memakai segala jenis wangi-wangian dalam segala bentuknya. Namun pemakaian minyak wangi sesaat sebelum ihram tidaklah dilarang, meskipun waktunya terpaut jauh.

read more

Sembahyang di Masjid Manado Sulawesi Utara

Sembahyang di Masjid Manado Sulawesi Utara

Sembahyang di Masjid Manado Sulawesi Utara

Penyebaran dari aliran kebatinan dan kepercayaan Buda Wisnu ini sering dilakukan dengan mengadakan permainan ( wayangan ), yang menjadi dalangnya pendhita (pemimpinnya) sendiri dengan mengambil lakon umpamanya adanya Kontraktor Kubah Masjid cerita Islam menjajah Budha, Prabu Ismaya (semar) itu hanya menjadi Punakawan (pelayan). Setiap  satu tahun sekali diadakan pertemuan samadi (takafur atau sembahyang) umum, menghadapi tahun baru tanggal 1 Syura. Selain itu pada tiap waktu atau hari juga diajarkan samadi. Pada tanggal 14 Desember 1956 pernah diumumkan merencanakan membuat sanggar pamujan (tempat sembahyang) di Malang, yang diusahakan oleh suatu panitia yang dipimpin oleh M. Citrowinoto. Bagaimana perkembangan pada waktu itu belum dapat diketahui dengan saksama, apakah sudah selesai atau belum.

Pemimpin pusat Buda Wisnu, Kusumodewo, pernah juga mengajukan tuntutan kepada pemerintahan agar agama Buda Wisnu mendapat pengesahan sama haknya dengan agama-agama yang lain seperti: Hindu Bali, Katolik, Kristen, dan Islam, sampai sekarang belum pernah mendapatkan Kontraktor Kubah Masjid di balasan. Berhubung dengan pengesahan Agama Buda Jawi atau Buda Wisnu itu oleh yang berwajib belum dapat dipandang sebagai agama, karena syarat-syarat yang diperlukan belum mencukupi seperti agama-agama yang sudah dianggap sah oleh pemerintah, maka oleh PEPERDA Jawa Timur dengan suratnya tanggal 4-7-1959 No. Kp. 2 33/7/1959, agama Buda Wisnu atau Agama Buda jawi dilarang memperkembangkan dan memperluas kegiatannya.

Resi Kusumodewo tidak mau menerimanya. Ia mengirim protes kepada PYM Presiden RI dengan mengingat UUD RI tahun 1945 bab XI pasal 29 ayat 2 tentang kemerdekaan beragama, dengan alasan pula mengapa orang-orang yang mengajarkan agama Arab (Islam-pen) dan Eropa (Kristen-pen) tidak dilarang. Selanjutnya papan nama aliran tersebut oleh yang berwajib diperintahkan untuk Kontraktor Kubah Masjid diturunkan. Demikian pula izin-izin pertemuan dari gerakan tersebut dicabut. Hal ini terjadi di daerah Surakarta (Karanganyar dan lain-lain), di desa Gelung, Paron (Ngawi), Keresidenan  Madiun dan lain-lain tempat lagi.

read more