Sembahyang di Masjid Manado Sulawesi Utara

Sembahyang di Masjid Manado Sulawesi Utara

Penyebaran dari aliran kebatinan dan kepercayaan Buda Wisnu ini sering dilakukan dengan mengadakan permainan ( wayangan ), yang menjadi dalangnya pendhita (pemimpinnya) sendiri dengan mengambil lakon umpamanya adanya Kontraktor Kubah Masjid cerita Islam menjajah Budha, Prabu Ismaya (semar) itu hanya menjadi Punakawan (pelayan). Setiap  satu tahun sekali diadakan pertemuan samadi (takafur atau sembahyang) umum, menghadapi tahun baru tanggal 1 Syura. Selain itu pada tiap waktu atau hari juga diajarkan samadi. Pada tanggal 14 Desember 1956 pernah diumumkan merencanakan membuat sanggar pamujan (tempat sembahyang) di Malang, yang diusahakan oleh suatu panitia yang dipimpin oleh M. Citrowinoto. Bagaimana perkembangan pada waktu itu belum dapat diketahui dengan saksama, apakah sudah selesai atau belum.

Pemimpin pusat Buda Wisnu, Kusumodewo, pernah juga mengajukan tuntutan kepada pemerintahan agar agama Buda Wisnu mendapat pengesahan sama haknya dengan agama-agama yang lain seperti: Hindu Bali, Katolik, Kristen, dan Islam, sampai sekarang belum pernah mendapatkan Kontraktor Kubah Masjid di balasan. Berhubung dengan pengesahan Agama Buda Jawi atau Buda Wisnu itu oleh yang berwajib belum dapat dipandang sebagai agama, karena syarat-syarat yang diperlukan belum mencukupi seperti agama-agama yang sudah dianggap sah oleh pemerintah, maka oleh PEPERDA Jawa Timur dengan suratnya tanggal 4-7-1959 No. Kp. 2 33/7/1959, agama Buda Wisnu atau Agama Buda jawi dilarang memperkembangkan dan memperluas kegiatannya.

Resi Kusumodewo tidak mau menerimanya. Ia mengirim protes kepada PYM Presiden RI dengan mengingat UUD RI tahun 1945 bab XI pasal 29 ayat 2 tentang kemerdekaan beragama, dengan alasan pula mengapa orang-orang yang mengajarkan agama Arab (Islam-pen) dan Eropa (Kristen-pen) tidak dilarang. Selanjutnya papan nama aliran tersebut oleh yang berwajib diperintahkan untuk Kontraktor Kubah Masjid diturunkan. Demikian pula izin-izin pertemuan dari gerakan tersebut dicabut. Hal ini terjadi di daerah Surakarta (Karanganyar dan lain-lain), di desa Gelung, Paron (Ngawi), Keresidenan  Madiun dan lain-lain tempat lagi.

Perkembangan aliran kepercayaan ini tidak tampak pesat, bahkan di beberapa tempat pemimpin-pemimpin setempat ada yang berdiri sendiri, memisahkan diri (memecah) dari pimpinan pusatnya seperti yang dilakukan oleh Nurcahyo dengan aliran Jawa Dipa, Hadiwiyono dengan Panti Agama Budha di Malang, Resi Buda Ki Padmohandowo di Wlingi dengan nama-nama Budha, di Madiun Buda Jawi memisahkan diri dari pusatnya yang dipimpin oleh Resi Kusumodewo, dan cabang ini untuk sementara Kontraktor Kubah Masjid dipimpin oleh Kurdi pensiunan kepala kantor pos, R. Hadiwinoto Tuban dengan nama agama Budha Cahaya, dan Samadi di Kuala Hulu, Labuan Ratu, dengan nama tetap agama Buda Jawa/Wisnu. Perpecahan ini menurut pernyataan-pernyataan yang diketahui, disebabkan oleh beberapa hal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *